All That the Nature Shows Me

This is all about what the nature teaches me, through people, nature itself or consciousness.

Tampilkan postingan dengan label suara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara. Tampilkan semua postingan

Marhaban ya Preman


Menyambut bulan puasa dan lebih jauh lagi hari raya, saya merasa senang sekaligus was-was. Senang karena suasana untuk beribadah lebih terasa dibanding bulan lainnya (meskipun semakin tahun semakin pudar juga) dan ini adalah waktu yang tepat pula untuk refleksi diri. Melatih diri untuk kembali memegang kontrol setelah sekian lama terbiasa dikontrol nafsu, namun pada saat yang bersamaan merelakan dan menyadari bahwa kekuasaan penuh adalah kontrol Tuhan.

Tapi rupanya puasa hanya selebrasi setengah hari. Kesederhanaan dan kesabaran pagi hingga petang dibalas dengan ketamakan malam hari. Begitu pula Hari Raya Idul Fitri. Kesucian diri rusak oleh kebanggaan diri. Karena ini adalah hari pamer.

Hari pamer adalah penyebab semua harga bahan pokok naik. Semua orang berpesta pora. Membeli makanan lebih dari yang diperlukan. Hari pamer juga menuntut orang terlihat sukses pada saat pulang kampung. Pamer anak, pamer istri, pamer kendaraan dan pamer-pamer yang lain. Sepertinya dosa besar jika tidak bisa memenuhi standar minimum pamer masyarakat.

Karena pamer adalah pamer dan bukan tampil apa adanya, maka diperlukan usaha lebih untuk bisa pamer. Diperlukan juga uang lebih untuk pamer. Jika pemasukan tetap saja dan uang THR kurang, maka jangan heran jika di beberapa instansi ada uang ‘THR’ dari bawahan ke atasan. Maka jangan heran banyak bawahan makin rajin ke jalan untuk cari tambahan. Maka jangan heran pula, di tempat-tempat umum makin banyak terjadi tindak kriminal. Sebagai anak kos, saya merasakan secara langsung imbas kenaikan angka kriminalitas seperti pencurian.

Ego kita telah menjadi preman untuk diri sendiri. Memeras diri sendiri. Tuhan pun kita telantarkan.

Marhaban ya preman… 

(Aug'12)

Perempuan

Setelah membaca Newsweek edisi September 26 ini saya kembali berpikir tentang perempuan. Pembahasannya adalah Women in The World. Ya, tentang perempuan dan semua lika liku-nya. Mulai dari semakin meningkatnya peran wanita dalam membantu pergerakan ekonomi dan politik dunia hingga kekerasan rumah tangga dan ‘Honor killing’ (pembunuhan oleh anggota keluarga demi nama baik) yang ajaibnya masih tetap terjadi, bahkan di Negara Barat yang selalu diagungkan sebagai pengusung HAM.


Tak perlu jadi seorang feminis sebetulnya untuk mampu menyuarakan ketidakadilan dan persamaan hak. Hanya dibutuhkan keinginan untuk membuka mata, berbicara dengan nurani dan berpikir jernih. Ambil contoh dalam hal persamaan hak: kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Terlepas dari apakah seorang wanita akan bekerja dan memiliki pendapatan sendiri, semua orang berhak mendapat pendidikan. Sudah waktunya kita berhenti berpikiran bahwa pendidikan hanya untuk bekerja lalu mendapatkan uang. Pendidikan seyogyanya melatih kepekaan dan kebiasaan kita untuk terus belajar. Dan itu pun diperlukan wanita dalam mengatur rumah tangga dan mendidik anak. Bagaimana mampu mendidik anak jika pengetahuan terbatas dan kecerdasan tidak dilatih?

Dalam hal kekerasan domestik, saya sangat terganggu dan kaget saat mengetahui bahwa masih ada pembunuhan atas nama kehormatan dengan kebanyakan korban wanita. Di Pakistan dikabarkan jumlah korban wanita dari pembunuhan atas nama kehormatan ini mencapai angka seribu setiap tahunnya. Sedih sekali mengetahui bahwa pembunuh adalah ayah atau sepupu sendiri. Dan sebelum dibunuh penyiksaan dan pemerkosaan bisa saja terjadi.

Kekerasan lain menurut saya ada pemanfaatan badan wanita untuk mendapatkan keuntungan tanpa kompensasi yang seharusnya pada wanita yang bersangkutan. Seragam kerja sales rokok, misalnya.


Saya tidak setuju jika kekerasan dan pemikiran sempit mengenai peran wanita ini dikaitkan dengan agama. Saat ini saya tidak punya bukti dan alasan ilmiah untuk menyangkalnya memang. Tapi saya percaya jika agama manapun tidak membenarkan ketidakadilan dan kekerasan. Interpretasi yang melenceng terhadap ajaran suatu agama di satu sisi bisa jadi adalah penyebabnya. Propaganda berlebih suatu oknum di sisi lain membuat hal tersebut terlihat semakin buruk serta menyamarkan adanya batasan antara ajaran moral dan kepercayaan perseorangan atau sekelompok orang saja.


Suara kebebasan wanita ini sudah digaungkan sejak beratus tahun lalu dan bagaimanapun di banyak aspek kita telah melihat dunia semakin memberikan tempat bagi wanita. Bukan pekerjaan mudah untuk memperjuangkan kemanusiaan (saya lebih senang dengan kata kemanusiaan dibanding persamaan atau perlindungan wanita). Hormat saya untuk siapapun yang sudah menyumbangkan sumber daya yang dimiliki dalam perjuangan ini. Sejauh ini, semoga doa dan kesadaraan kita dan kemauan untuk menyadarkan orang-orang termasuk wanita sendiri mampu membuka jalan ke arah yang lebih baik.


(Sept'11)

Jahat

Dasar kau manusia tak punya hati!

. Memang, lalu kenapa? Hatiku dicuri, dirampas, dirusak dan bahkan kubagikan gratis.

Kau memang sakit!

. Aku berbuat baik. Menjadi pendonor hati.

Sudah malas berbicara denganmu!

. Ya, aku pun tak akan mampu berbicara lagi. Karena setelah hati, ginjal dan jantung kini mata, mulut, hidup dan telingan akan kusedekahkan.



(Jul'11)

Langit Vanilla

Wangi vanilla menyeruak

Semerbak

Dari langit di atasku

Saat aku duduk sendiri di depan halte rusak itu


Kulihat langit hitam berubah putih

Ah, waktunya langit vanilla

Pusaran angin membuat warna putih itu berputar-putar di langit

Seperti gambar sebuah galaksi yang pernah kulihat di google

Atau seperti saat mengaduk kopi yang sedang dicampur susu


Hari ini adalah hari panen bunga

Waktunya berterimakasih pada Orchidacustus

Dewi anggrek yang kini menjadi pemimpin dewi bebungaan

Setelah membunuh Shynia, Dewi bunga putri malu


Lihat itu, hamparan langit hampir memutih semua

Wangi vanilla pun semakin kentara

Keajaiban sebentar lagi terjadi


Saat langit putih

Dan angin membeku, hening

Saat itu lah peri-peri berlarian keluar dari persembunyian

Mengambil sesajen untuk Orchidacustus

lalu mencatat nama pemberi sajen

"Panennya akan kami bantu"


Kecut

Takut

Sendiri di antara peri berlalu lalang

Mana bus yang sesore ini kutunggu


Aku berusaha berlindung dari tertabrak peri

Bahkan hanya tersentuh pun, kau akan terbakar

Mereka terbang sangat cepat

Anginnya pun bisa merobek kertas


Aku berdarah-darah

Menunggu bus

Di halte rusak itu

Sendiri

Pada malam ketika langit vanilla


(Jun'11)


Repost: Mealtime = 15-minute Hell

I was again bothered by question of being a muslim vegetarian. When I looked at my notes, I found this on my back up data. I wrote it when I have not decided yet to stop eating meat. Uploaded on my facebook on Thursday, July 2, 2009 at 7:29pm


-------------------------------------------------------------------------------------------

I always believe nature talks to me in her own way. It can be trough people, experience, or any signs from the nature herself. Now I think she's forcing me to stop my ignorance of animal's exploitation. Well, it's hyperbole yet I believe later these signs will lead me to the issue (or they already have? ).

One day, a fellow who is a vegetarian talked to me about membership of WWF -it’s not those matches where boys in panties fighting each other!!! Although after being sued they changed it to WWE-. It is an international non-governmental organization working on issues regarding the conservation, research and restoration of the environment (cited from Wikipedia, our God of Knowledege ;))

He complained about its activists who still eat meat. For me it’s not even a problem since we do not eat rare and endangered animals. Still this fella had his own arguments. “What will happen if everyone stops eating meat? How about the possibility of overpopulation of animals?”, I asked. He believes the increase of density of animals (in this case farm animals) is caused by cattle cultivation. If people start reducing their consumption of made-of-animal products (meat, leather, gelatin, brushes etc.) then cattle cultivation will reduce and the wild life (except human beings) takes care of animal population.

About a week before the talk I visited Dee’s site (one of my fav writers), she become a vegetarian and had a campaign related to eviromental issues. Then at the night I raved about being a vegetarian to a ‘friend’ and he thought I was joking and asked if I wanted to be a bhiksuni. Although after attending yoga class I’ve eaten lesser red meat, I wasn’t sure if I could stop eating meat.

I’m quite familiar with kejawen (it’s a Javanesse perspective of life which believes that nature has an ultimate value), so for me it’s too “human-centric” if we say that animals are there only to support human beings life. To be eaten. To be killed.

I’m still confused by the question of the meaning of (my) life then another appealing yet hard-to-be-answered question comes to mind: what is the meaning of animals’ existence?

So, mealtime for me is the moment of my ignorance toward this.

Holey of the Holly

Setelah menonton Harry Potter kali ini, pikiran saya terantuk pada kata "holey" dan "holly". Tidak perlu saya sebutkan di scene mana kata-kata itu tercetus (cari tahu sendiri!). Ya, berlubang..kosong ataukah suci yang saya dapatkan dari apa yang selama ini dilakukan. Meskipun kau akan berkata kosong itu isi itu kosong, saya tetap tak puas. Apa yang ingin didapatkan jika berpatokan pada kepuasan. Namun berjalan mengisi kekosongan itu yang membuat hidup bisa tetap dijalankan, bukan?

Lihat apa yang dilakukan agama. Memacu umat untuk berbuat kebaikan. Menuju kesucian. Meskipun anehnya mereka percaya tidak akan pernah suci. Lucunya.

Sering saya berpikir apa itu waras dan apa itu gila. Hal yang lalu membuat saya sadar bahwa saya manusia yang tidak mengerti manusia. Tidak mengerti diri sendiri.

Semua jadi berjarak. Saya tidak terlibat langsung dengan hidup. Hanya ada sia-sia. Seorang teman pernah berkata bahwa mungkin orang yang paling bahagia hidupnya adalah orang 'gila' yang bergelandangan di jalan. Tidak memiliki apapun yang harus dikhawatirkan. Bebas tertawa tanpa perlu ada hal lucu. Entahlah, saya tidak pernah ada di pengalaman orang 'gila' itu. Lagipula, rumput tetangga selalu lebih hijau bukan. Siapa tahu orang 'gila' itu bukannya bahagia, tapi memang tak merasa?

Hei, tapi bukankah banyak orang tak merasa. Orang yang meninggalkan kepekaannya. Orang yang hanya menjadi tumpukan ketidakpedulian. Dan saya salah satunya.

Mereka menjauh
kursi, kasur, pensil, buku...
tertawa dan berlalu
tanpa ba-bi-bu
aku terpaku
mereka baru saja hidup
tapi bukankah memang begitu
semua hidup
tidak juga
aku tidak
ini hanya terasa hampa

semua berlari
menjadi makhluk suci
menjadi kosong
menjadi berlubang
menjadi cangkang
"koclak koclak"

(Nov,'10)

Byarbyur kah?

Blek..
Krr..KeRRR...
Sreurrr..
Plek..plek..plek

(putar keran//air mulai keluar pelan//semakin banyak//cukup deras//kupukul-pukul air di ember itu)

Namun tak kudengar 'byuurr' (penyepertian) saat kusiramkan air dari gayung, aku mendengarnya lebih seperti 'cruarep..' ("huh, pasti ada konspirasi organisasi besar yang berusaha menutupi suara-suara alam, cruarep menjadi byuurr", ujar asti yg dulu. Hehe..)

Tergelitik aku untuk memperhatikan suara-suara lain yang kerap dibahasakan lewat kecap panganteb (itu loh macam gek diuk, jung nangtung). Saat aku duduk di kursi bukan 'gek' yang kudengar, agak sulit memang kubahasakan namun setelah berusaha mencari padanan huruf-huruf yang mendekati tiap potong suaranya, aku anggap suara duduk tadi sebagai 'veshhh...'

Namun jika aku berujar veshhh... belum tentu orang-orang mengerti kalau yang kumaksud adalah duduk. (Kebanyakan,) Orang akan lebih mengerti jika kusimbolkan dengan 'gek'. Ah, simbol. Kesepakatan umum atas suatu hal adalah kunci untuk dapat berkomunikasi. Mungkin dengan cara itu pula bahasa lahir dan berkembang. Kesepakatan bersama.

Namun perhatikanlah, ada hal yang hilang dari penyimbolan dan pembahasaan. Coba dengarkan baik-baik suara motor yang sedang melaju. Bukan hanya ada 'bruum...' saja di situ. Ada 'cek..cek..cek', 'hesh...hesh...', dan suara lain yang sulit dan tak mungkin dibahasakan. Meskipun 'brum..brum..' sudah cukup mampu mewakilinya dan membuatmu mampu menyampaikannya pada orang lain, sesungguhnya ia telah tersempitkan dalam simbol (meskipun pada kenyataannya suara itu tetap seperti itu tak terpengaruh simbolmu).

Mari nikmati suara alam dengan menjadi pasif. Biarkan orkestra maha akbar ini memberikan persembahannya.

Apapun pem-bahasa-an kita atas suara-suara suci alam, marilah lihat bahwa tiap orang mampu membahasakan dengan caranya.

(Berhubung pemilu: Apapun bahasa yang kau pilih esok nanti, tak akan mengubah nusantara tetap anggun di tempatnya. Selamat memilih capres)

Blogged with the Flock Browser

About me

Foto Saya
Cie
- writes everything coming to her mind - loves sleeping - wants to own a library - hates routine - loves the pleasure of discovery
Lihat profil lengkapku

Subscribe via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

People Read the Blog

Visitor

hit counter